Aku
mengenal seoarang pria yang begitu melihatnya entah kenapa aku begitu jatuh
cinta, rasanya aku tidak ingin melewatkan satu detikpun waktuku tanpa berbicara dengannya. Yah, dia memang yang paling bersinar diantara semuanya dari hariku
mendung kelabu kini cerah merekah karena obrolan-obrolan hangat kami berdua.
Semakin sering kami bercerita dan menghabiskan waktu berdua semakin aku
dibuatnya jatuh cinta, aku tenggelam dalam perasaan cinta yang dalam kepadanya.
Sejak saat itu kami memutuskan untuk memulai sebuah hubungan pacaran bahkan
sebelum kami sempat bertemu, yah bisa dikatakan ini kisah cinta diudara karena
kami tinggal di kota yang berbeda. Aku salah satu dari orang-orang yang percaya
bahwa jatuh cinta memang bisa melalui begitu banyak dimensi meskipun kenyataannya
kami memang belum pernah bertemu.
Aku
melewati hari-hari yang menyenangkan setelah kehadirannya, kami merencanakan
banyak hal bersama pendidikan, pekerjaan, pernikahan bahkan rencana kami
setelah berkeluarga nanti. Topic obrolan yang tidak ingin aku bahas jika bukan
dengan orang yang aku yakini akan menikahiku kelak, kami mulai saling
memperkenalkan diri kami pada keluarga masing-masing dan aku selalu berpikir bahwa
hubungan yang sudah melibatkan orangtua di dalamnya tentu tidak lucu jika dirusak
dan itu adalah salah satu alasan yang membuat aku begitu yakin bahwa dia tidak
mungkin menyakiti dan meninggalkanku.
Akhirnya
kami punya kesempatan untuk bertemu, tidak ada satu katapun yang bisa
mendeskripsikan bagaimana aurnya perasaanku saat itu, aku benar-benar dimabuk
cinta. Aku berusaha mempersiapkan diriku sebaik mungkin sebelum bertemu
dengannya, mungkin aku tidak sesuai dengan harapannya atau mungkin sebaliknya
tapi itu tidak masalah karena aku mencintai dia dengan tulus, entah dia
melakukan hal yang sama atau tidak aku tidak perduli yang aku tau hanya aku
cinta dia saat itu. Kami melewati hari yang singkat itu berdua, sungguh indah
rasanya. Sampai akhirnya, dia harus kembali pulang untuk bekerja. Hari-hari
berikut setelah kepulangannya adalah hari-hari yang paling mendebarkan bagiku,
ya bagaimana tidak aku selalu takut membuatnya kecewa dengan rupa dan fisikku
yang tak sempurna tapi setelah pertemuan itu sikapnya padaku masih sama. Hari,
minggu dan bulan terus berlalu kekhawatiran itu perlahan memudar, ku pikir
mungkin dia memang menerimaku apa adanya sama seperti apa yang aku lakukan terhadapnya
selama ini.
Kesibukan
kami kian hari kian bertambah, tugas, pekerjaan dan kegiatan-kegiatan lain
mulai membuat kami kehilangan waktu untuk saling bercerita, bahkan ucapan
selamat pagi dan selamat tidurpun sudah tak pernah lagiku baca tapi perasaanku
tetaplah perasaan yang sama. Aku selalu berusaha memaklumi dan mendukung
kariernya, itulah sebabnya ketika dia mengatakan dia sibuk dengan kegiatan dan pekerjaannya aku tidak pernah
menjadikan hal tersebut sebagai masalah dalam hubungan kami karena aku menaruh
kepercayaan padanya dan aku selalu percaya bahwa dia adalah orang yang akan
setia menjaga setiap hal yang telah kami sepakati. Entah kenapa semakin hari
aku justru merasa aku semakin jauh, yah dia yang menjauh dariku, dia yang mulai
membuat jarak, dia yang mulai tidak membalas pesan dan tidak mengangkat telepon
dariku. Alasannya selalu sama, “aku sibuk!”. Apakah memang tidak ada waktu sama
sekali untuk sekedar membalas pesan atau memberi kabar? Aku pikir sebenarnya
bukan karena itu, toh rasanya mustahil di zaman yang serba bergantung dengan
handphone ini kita tidak menyentuh atau membuka handphone sama sekali, apalagi
kamu harus selalu memantau notifikasi yang masuk dari senior, rekan
kerja dan sebagainya, alasan klasik untuk menghindari seseorang yang mungkin
kamu rasa mengganggu moodmu.
Aku
mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang salah dalam hubungan kami, dia tidak
lagi mengabariku, dia tidak lagi membalas pesan-pesan dari orangtuaku, bahkan
kontakku diblokirnya. Apa yang salah? Aku berusaha introspeksi diri, mencari
celah untuk melihat apanya yang salah. Sejauh ini kami baik-baik saja, bahkan
dihari terakhir dia mengabariku kami bahkan tidak bertengkar sama sekali, kami
bercerita seperti biasa, kami mengungkapkan rasa rindu dan sayang, semua normal
seperti biasa tapi aku harus menerima kenyataan bahwa itu adalah hari terakhir
dia mengabariku. Setiap hari aku masih terus mengiriminya pesan untuk
memberinya semangat, mengingatkannya makan, menanyakan bagaimana
hari-hari yang dia lewati, bagaimana pekerjaannya? Tapi tentu yang aku dapatkan
hanyalah pesan-pesan panjang yang tak terbaca.
Setelah
hari hari yang sakit berlalu, bulan bulan pahit menyadarkan diriku bahwa dia
yang ku perjuangkan sepenuh hati ternyata memang bukan untukku. Sekeras apapun
aku berjuang, sebanyak apapun aku berusaha, meskipun ku paksakan tetap saja dia
bukan lagi milikku. Perasaannya untukku telah hilang, entah apa yang membuat
tapi itulah yang saat ini terjadi mungkin melepaskan memang
Jangan
berpikir bahwa aku menulis ini karena aku masih berharap cinta dan belaskasihan
dari pria sepertimu, aku tidak butuh itu karena kau memang tidak memiliki itu
semua dalam dirimu. Aku sama sekali tidak membencimu setelah semua hal yang
telah kau lakukan padaku, aku sudah ikhlas dan memaafkan kamu jauh sebelum aku
menulis ini, untuk pesan-pesan yang tak pernah kau baca itu hanya akan menjadi
pesan yang tak pernah sampai. Tidak ada penyesalanku didalamnya, aku hanya
ingin mengucapkan rasa terimakasihku kepadamu karena telah menunjukan siapa
dirimu sebenarnya. Caramu memperlakukan ku kemarin adalah cara Tuhan mempertemukanku dengan dia hari ini, aku harap suatu hari kau akan membaca tulisan ini dan
menyadari seberapa besar kau telah menyakitiku.

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus